Aku pernah
membenci gelap malam dengan alasan terlalu menakutkan dan sangat mengganggu.
Sekarang aku sedang menunggu gelap malam datang terasa sangat lama juga
membosankan. Mungkin ini salah satu alasanku membenci gelap malam karena sangat
menyakitkan hati. Menunggu dan terus menunggu bukanlah kehebatanku tapi apalah
dayaku ini.
Entah apa
mauku yang saat ini tengah menunggu gelapnya malam. Telah lama aku tak bertemu
karena ia begitu menakutkan untukku. Mencoba berdamai kembali dengan gelapnya
malam ternyata bukanlah hal yang mudah dan tetap harus kulakukan kalau tidak
bagaimana aku berproses menjadi dewasa?.
Hei malam
apa yang kau fikirkan tentangku setelah tahu bahwa diriku ini sangat
membencimu. Apa dia juga membenciku karena selama ini kuacuhkan dan selalu
cepat tertidur agar tak bertemu dengannya. Selama ini aku selalu menghindar
dari gelapnya malam walau pun dia selalu ada disampingku.
Ia selalu
sabar tetap tersenyum padaku dari kejauhan namun tetap kuabaikan karena
ketakutanku terlalu mendalam untuknya. Kini aku merasa buruk karena telah
membenci gelap malam yang selalu tetap tersenyum walau diabaikan. Aku mencoba
berdamai dan menghampirinya dengan segenap hati menghancurkan rasa ketakutanku
padanya.
Jujur saja
takutku pada gelapnya malam tanpa sebab yang jelas bahkan aku saja tidak
mengerti padahal ia selalu tersenyum padaku. Ia selalu memperhatikan bahkan
melindungiku dari jauh sebisa mungkin. Dengan angkuhnya aku selalu mengacuhkan
kehadirannya dan mendiamkan senyuman hangat yang ia berikan padaku.
Entah kenapa
kini aku tak melihat lagi senyuman dari gelap malam karena selalu tertutup awan
mendung bahkan ia terlihat menangis. Tangisannya membuatku sedikit merindukan
senyuman hangat yang selalu ia berikan untukku. Dengan sabar ia melindungi
tanpa ku hiraukan sedikit pun. Mungkin sebenarnya aku terlalu nyaman karena
perlindungannya yang begitu hebat ia berikan untukku.
Sakitnya
kini telah kurasakan dengan dingin menusuk tulang yang ia berikan saat ini.
Gambaran sakit yang dirasakannya terlihat jelas dari hujan deras disetiap kali
ia datang. Kini aku menunggu kehadirannya untuk meminta maaf karena selalu
mengabaikannya namun terlihat jelas sakit yang ia rasakan karenaku tak bisa
lagi dibendung.
Semakin
derasnya hujan terlihat begitu jelas sakit yang ia rasakan. Walau pun tangisannya
sudah berhenti tetap rasa dinginnya masih ada dan akan selalu terasa.
Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu pada gelapnya malam. Selama ini aku
sedang mencari jawaban atas pertanyaan kenapa begitu membencinya.
Gelapnya
malam terlalu menakutkan untukku sampai tak ingin menemuinya lagi. Ia begitu
mempesona saat hadir sehingga membuatku takut terlalu jatuh hati pada indahnya.
Ia bukan ditakdirkan untukku miliki jadi aku sangat takut akan kehilangannya.
Membencinya karena tak bisa kumiliki sepenuhnya adalah alasan utama untuk
menghindar darinya Tanpaku sadari dengan menghindar justru membuatku lebih
memikirkannya. Yang bisa kulakukan saat ini adalah menunggunya datang meskipun
tanpa senyuman hangat yang dulu pernah ia berikan padaku.
Terimakasihku
ucapkan untuk kehangatan yang pernah kau berikan padaku dan saat ini aku
merindukanmu malam.
Shinta
Puspitasari
Komentar
Posting Komentar