Langsung ke konten utama

Gelapnya Malam


Aku pernah membenci gelap malam dengan alasan terlalu menakutkan dan sangat mengganggu. Sekarang aku sedang menunggu gelap malam datang terasa sangat lama juga membosankan. Mungkin ini salah satu alasanku membenci gelap malam karena sangat menyakitkan hati. Menunggu dan terus menunggu bukanlah kehebatanku tapi apalah dayaku ini.

Entah apa mauku yang saat ini tengah menunggu gelapnya malam. Telah lama aku tak bertemu karena ia begitu menakutkan untukku. Mencoba berdamai kembali dengan gelapnya malam ternyata bukanlah hal yang mudah dan tetap harus kulakukan kalau tidak bagaimana aku berproses menjadi dewasa?.

Hei malam apa yang kau fikirkan tentangku setelah tahu bahwa diriku ini sangat membencimu. Apa dia juga membenciku karena selama ini kuacuhkan dan selalu cepat tertidur agar tak bertemu dengannya. Selama ini aku selalu menghindar dari gelapnya malam walau pun dia selalu ada disampingku.

Ia selalu sabar tetap tersenyum padaku dari kejauhan namun tetap kuabaikan karena ketakutanku terlalu mendalam untuknya. Kini aku merasa buruk karena telah membenci gelap malam yang selalu tetap tersenyum walau diabaikan. Aku mencoba berdamai dan menghampirinya dengan segenap hati menghancurkan rasa ketakutanku padanya.

Jujur saja takutku pada gelapnya malam tanpa sebab yang jelas bahkan aku saja tidak mengerti padahal ia selalu tersenyum padaku. Ia selalu memperhatikan bahkan melindungiku dari jauh sebisa mungkin. Dengan angkuhnya aku selalu mengacuhkan kehadirannya dan mendiamkan senyuman hangat yang ia berikan padaku.

Entah kenapa kini aku tak melihat lagi senyuman dari gelap malam karena selalu tertutup awan mendung bahkan ia terlihat menangis. Tangisannya membuatku sedikit merindukan senyuman hangat yang selalu ia berikan untukku. Dengan sabar ia melindungi tanpa ku hiraukan sedikit pun. Mungkin sebenarnya aku terlalu nyaman karena perlindungannya yang begitu hebat ia berikan untukku.
Sakitnya kini telah kurasakan dengan dingin menusuk tulang yang ia berikan saat ini. Gambaran sakit yang dirasakannya terlihat jelas dari hujan deras disetiap kali ia datang. Kini aku menunggu kehadirannya untuk meminta maaf karena selalu mengabaikannya namun terlihat jelas sakit yang ia rasakan karenaku tak bisa lagi dibendung.

Semakin derasnya hujan terlihat begitu jelas sakit yang ia rasakan. Walau pun tangisannya sudah berhenti tetap rasa dinginnya masih ada dan akan selalu terasa. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu pada gelapnya malam. Selama ini aku sedang mencari jawaban atas pertanyaan kenapa begitu membencinya.

Gelapnya malam terlalu menakutkan untukku sampai tak ingin menemuinya lagi. Ia begitu mempesona saat hadir sehingga membuatku takut terlalu jatuh hati pada indahnya. Ia bukan ditakdirkan untukku miliki jadi aku sangat takut akan kehilangannya. Membencinya karena tak bisa kumiliki sepenuhnya adalah alasan utama untuk menghindar darinya Tanpaku sadari dengan menghindar justru membuatku lebih memikirkannya. Yang bisa kulakukan saat ini adalah menunggunya datang meskipun tanpa senyuman hangat yang dulu pernah ia berikan padaku.
Terimakasihku ucapkan untuk kehangatan yang pernah kau berikan padaku dan saat ini aku merindukanmu malam.



Shinta Puspitasari

Komentar